Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 November 2013

Sebaris Nasehat Untukmu...Saudariku Muslimah




#Sebaris Nasehat Untukmu...Saudariku Muslimah#







Hijabku adalah kehormatanku, tanpa hijab itu maka kehormatan itu tidak ada padaku, aku laksana telanjang meski aku telah memakai pakaian, meski telah berjilbab gaul, sama saja tetap telanjang tanpa hijabku yang syar'iy.

Hijabku bukanlah tontonan, bukan barang yang akan aku pamerkan, maka hijabku itu tidak bermotif-motif atau bergaya-gaya agar terlihat modis dan menawan, hijabku itu menyembunyikan diriku dari pandangan manusia, bukan malah menarik perhatian mereka, hijabku melindungi aku dari bahaya dan keburukan pandangan manusia, insyaAllah aku akan selalu aman dengannya.

Hijabku bukanlah mengikuti trend yang sedang berkembang, yang hari ini dipakai kemudian besok dilepas, hijabku adalah ketaatanku kepada Allah Ta'ala, sebagai bukti ketundukan dan cintaku kepadaNya.

Hijabku bukan barang eksperimen dan kreativitas, yang didesain begini dan begitu untuk inovasi dalam

Minggu, 29 September 2013

Zainab binti Jahsy radhiallaahu ‘anha


Zainab binti Jahsy radhiallaahu ‘anha



Pernikahan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dengan Zainab binti Jahsy didasarkan pada perintah Allah sebagai jawaban terhadap tradisi jahiliah. Zainab binti Jahsy adalah istri Rasulullah yang berasal dan kalangan kerabat sendiri. Zainab adalah anak perempuan dan bibi Rasulullah, Umaimah binti Abdul Muththalib. Beliau sangat mencintai Zainab.

Nasab dan Masa Pertumbuhannya

Perceraian kian meroket, kenapa?



Oleh: Ruma Ummu Luthfan,
(Peminat Masalah Sosial dan Kewanitaan)




              Kementerian Agama (Kemenag) mencatat setiap tahunnya telah terjadi 212 ribu kasus perceraian di Indonesia. “Angka tersebut jauh meningkat dibanding 10 tahun yang lalu, yang jumlah angka perceraiannya hanya sekitar 50.000 per tahun,” kata Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jakarta, Sabtu (14/9/2013). Nasaruddin sangat prihatin dengan tingginya angka perceraian tersebut. Apalagi, hampir 80 persen yang bercerai merupakan rumah tangga usia muda.

Untuk menekan angka ini, salah satu langkah jitu yang diambil pemerintah melalui Kemenag adalah mengadakan Kursus Calon Pengantin (Suscatin) dengan menunjuk Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai lembaga pelaksananya. Kursus ini diberikan kepada setiap calon pasangan yang akan melaksanakan pernikahan dengan tujuan agar memahami pengetahuan tentang kehidupan rumah tangga/keluarga dalam mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah serta mengurangi angka perselisihan, perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga.

Materi kursus ini diberikan selama 24 jam pelajaran, meliputi tata-cara dan prosedur perkawinan, pengetahuan agama, peraturan perundang-undangan di bidang perkawinan dan keluarga, hak dan kewajiban suami istri, kesehatan reproduksi, manajemen keluarga dan psikologi perkawinan dan keluarga. Hal ini juga dikuatkan oleh pernyataan Dirjen Bina Masyarakat (Bimas) Islam Kementrian Agama, Abdul Djamil bahwa pembekalan yang diberikan meliputi pemahaman bahwa pernikahan adalah bersatunya dua individu yang berbeda pikiran dan pandangan sehingga dibutuhkan saling pengertian dan kesabaran dalam menyikapi perbedaan tersebut.

Apa penyebabnya?

Jika ditelaah secara mendalam, setidaknya terdapat dua faktor yang menyebabkan tingkat perceraian kian meroket, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal, meliputi ketidaksiapan pasangan suami istri dalam menghadapi berbagai permasalahan yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga, dan kurang pahamnya pasangan suami istri tentang hakikat tujuan pernikahan.

Sabtu, 21 September 2013

Bahaya Ghibah Terhadap Ukhuwah Islamiyah




Bahaya Ghibah Terhadap Ukhuwah Islamiyah 

 Oleh : Ali Farkhan Tsani*



   Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepada para sahabatnya :

أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ؟ قَالُوْا: اَللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، قِيْلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

   Artinya : “Tahukah kalian (wahai para sahabat) apakah yang disebut ghibah itu?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “(Ghibah) yaitu engkau menyebut saudaramu (sesama muslim) sesuatu yang dibencinya.” (Kemudian) sahabat bertanya, “(Ya Rasul) bagaimana halnya jika apa yang aku katakan itu (memang) terdapat pada saudaraku?” Beliau (pun) menjawab, “Jika apa yang kamu katakan itu (memang) terdapat pada saudaramu, maka (itulah berarti) engkau (memang) telah menggunjingnya (melakukan ghibah), (namun sebaliknya) jika apa (yang kalian katakan) itu tidak terdapat padanya, maka engkau telah berdusta (membuat fitnah) terhadapnya.” (Hadits Shahih riwayat Muslim).

     Astaghfirullahal ‘adzim. Ya Allah, seringkali terdengar di tempat kerja, di ruang minum kopi, di rumah, bahkan di majelis pengajian, seorang kaum muslimin menggunjing saudaranya sesama muslim tanpa merasa berdosa sedikitpun. Mereka asyik dengan gunjingannya itu, dan puas mengupas tuntas kejelekan, kelemahan, dan kesalahan saudaranya, yang semestinya dicintai, dikasihi dan dijaga nama baiknya karena Allah.
     Padahal, kalau kita melihat bagaimana Allah menggambarkan menggunjing itu dengan suatu yang amat kotor dan menjijikkan, yaitu bangkai. Bagaimana Allah menyebut di dalam firman-Nya yang Mahamulia :  

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مّنَ الظَّنّ، اِنَّ بَعْضَ الظَّنّ اِثْمٌ وَّ لاَ تَجَسَّسُوْا وَ لاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ، وَ اتَّقُوا اللهَ، اِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
 
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jauhkanlah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging (bangkai) saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Quran Surat Al-Hujurat [49] ayat 12).



Pengertian Ghibah

    Secara bahasa, kata “ghibah” (غيبة) berasal dari akar kata “ghaba, yaghibu” (غاب يغيب) yang artinya tersembunyi, terbenam, tidak hadir, dan tidak tampak. Kita sering menyebut “ghaib”, tidak hadir.
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyimpulkan bahwa ghibahadalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedangkan orang muslim itu tidak suka bila hal itu disebutkan.
Seorang ulama yang menggugah jiwa lewat tulisan-tulisannya, Imam Al-Ghazali mengungkapkan, ghibahtidak hanya pengungkapan aib seseorang yang dilakukan secara lisan. Tetapi juga termasuk pengungkapan dengan melalui perbuatan, misalnya dengan isyarat tangan, isyarat mata, tulisan, gerakan dan seluruh yang dapat dipahami maksudnya. 

     Menurut Imam Al-Ghazali, aib seseorang yang diungkapkan itu meliputi berbagai hal, seperti kekurangan pada badannya, pada keturunannya, pada akhlaknya, pada pebuatannya, pada ucapannya, pada agamanya, termasuk pada pakaian, tempat tinggal dan kendaraannya.
Demikian banyak hal yang dapat menjadi obyek pengungkapan tentang kekurangan diri seseorang, sehingga seorang muslim, sadar atau tidak sadar memungkinkan dirinya sangat mudah terjerumus dalam ghibah ini, bila tidak berhati-hati dan tidak pula mewaspadainya.

   Bagaimana tidak? Seperti makan daging? Sementara yang digunjing tidak mampu menjawabnya, karena tidak ada di tempat gunjingan. Benar-benar seperti daging mati, tidak mampu membalasnya, memberikan penjelasan, alasan, dan argumen, yang memungkinkan adanya penjelasan seimbang dengan gunjingannya itu.
   Seorang ulama hafidz Al-Quran yang juga ahli tafsir dan hadits, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan, tentang Surat Al-Hujurat ayat 12 yang artinya, “Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging (bangkai) saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kalian merasa jijik kepadanya.” Ayat ini merupakan gambaran betapa ghibah bagaikan mencabik-cabik orang dari belakang tanpa sempat orang tersebut membelanya. Karena tak dapat membela itulah maka diibaratkan orang mati, yang hanya bisa diam saja sekalipun dirobek-robek.

    Masih menurut Ibnul Qayyim, menikmati ghibah sama seperti makan sekerat daging, memang enak rasanya hingga susah menghentikannya. Namun, mereka tidak mengetahui bahwa daging itu sudah basi alias telah menjadi bangkai.



Membebaskan Diri Gosip





 



Bahaya Gosip

     Gosip merupakan salah satu masalah paling umum baik di tempat kerja maupun dalam hubungan. Masalah terbesar dari gosip adalah kebanyakan orang tidak menyadari ketika sebuah diskusi berubah menjadi gosip dan lebih parahnya lagi mereka tidak menyadari dampak dari gosip tersebut. Gosip adalah pembunuh sebuah hubungan dan hal ini terjadi lebih sering dari yang anda percayai. Gosip pada dasarnya adalah apapun yang dapat dianggap sebagai hal negatif tentang seseorang yang dibicarakan dengan orang lain dimana mereka tidak mendengarnya langsung dari pihak yang bersangkutan. Gosip bisa berupa sesuatu yang sangat sederhana tanpa adanya niat untuk menyakiti orang tersebut dan bisa pula sesuatu yang membunuh karakter seseorang.

     Tidak ada satu hal pun yang positif dari gosip dan gosip cenderung menyukai orang yang dibicarakan dan orang-orang yang terlibat ketika membicarakan gosip tersebut. Ada pula risiko yang timbul jika orang yang dibicarakan mengetahui orang yang menyabarkan gosip tersebut, juga rasa sakit yang muncul akibat informasi negatif yang tersebar. Beberapa bahaya lain yang muncul akibat gosip:

• Stress bagi mereka yang terlibat dalam gosip
• Menyakiti perasaan
• Menghancurkan kerja sama tim
• Membuat orang enggan membagikan kerapuhan mereka
• Menghambat komunikasi yang membutuhkan rasa percaya dengan memberi dorongan bagi orang untuk menjaga mulut mereka
• Menciptakan reputasi yang negatif
Pilihan-pilihan Anda Terhadap Gosip

     Dampak-dampak negatif tersebut seharusnya cukup untuk meyakinkan siapapun untuk menghindari gosip, sayangnya, mereka tetap melakukannya. Gosip sangatlah menggoda dan sering terjadi karena terdorong perilaku orang-orang sekitar. Dunia gosip membuka pintu lebar bagi semua gosip baru dan mereka cenderung menjadikan orang-orang yang tidak terlibat dalam gosip yang bersangkutan untuk menjadi korban dari gosip yang lebih baru. Terkadang lebih mudah untuk ikut terlibat dalam gosip daripada mengambil risiko menjadi korban dan bagi kebanyakan orang, dengan berbagai alasan, gosip memiliki daya tarik yang membuat orang tertarik untuk terlibat. Gosip adalah sebuah hal yang egois dan berbahaya karena merendahkan dan menghancurkan seseorang (baik secara langsung maupun tak langsung) untuk membuat gosip tersebut terdengar lebih baik. Inilah alasannya mengapa gosip sangatlah merusak, terutama bagi orang yang digosipkan.

     Hal terbaik dari gosip adalah anda bisa dengan mudah menjauhkan diri darinya jika anda memutuskan untuk menghindarinya dan mempelajari beberapa teknik untuk mengenalinya, menanganinya, dan menjaga jarak dari masalah yang ditimbulkan. Jadi bagaimana kita bisa melakukannya? 


Kenali Gosip

Seringkali gosip merupakan sesuatu yang jelas dan tidak ditutup-tutupi. Kadang gosip bisa merupakan sebuah pertanyaan sederhana yang diajukan seseorang tentang apa yang anda dengar atau ketahui atau pikirkan mengenai orang lain atau tindakan mereka. Hal tersebut bisa terdengar seperti:

• Apakah kau dengar apa yang Frank katakan mengenai Sally?
• Kau tak akan menyangka apa John lakukan minggu ini?
• Aku dengar Gerry …
• Apakah kau sudah melihat pacar baru Lisa?

Kata-kata tersebut tidak selalu berakhir dengan gossip negatif namun mereka merupakan pembicaraan mengenai orang lain dan cukup mudah untuk dikenali dalam sebuah percakapan atau awal sebuah gosip. Sayangnya, tidak semua gosip bisa dikenali dengan mudah, dan kadang gosip lebih tersamar. Gosip kadang berawal dari pembicaraan dengan seorang teman atau rekan kerja; diawali dengan pembicaraan yang positif hingga akhirnya berujung pada pembicaraan negatif. Jika anda tidak membicarakan cara untuk membantu orang yang sedang anda bicarakan, mendukung mereka untuk menyelesaikan masalah atau melakukan tindakan positif lain ketika membicarakan orang lain; kemungkinan besar pembicaraan itu akan berakhir menjadi gosip. Pada dasarnya, jika anda sedang membicarakan orang lain, anda perlu berhenti dan memikirkan jika pembicaraan tersebut akan membantu orang tersebut atau tidak. Jika tidak, maka pembicaraan itu adalah gosip dan tidak perlu anda lanjutkan.
Mempengaruhi Gosip

“Lidah mempunyai kuasa untuk menyelamatkan hidup atau merusaknya; orang harus menanggung akibat ucapannya.”

Karena gosip sangatlah kuat, gosip memiliki pengaruh yang besar dan harus dilawan melalui pengaruh positif dalam meresponnya. Terdapat beberapa tindakan yang bisa anda lakukan untuk melawan gosip.

Acuhkan gosip:

• Hindari orang-orang yang bergosip dan jangan beri mereka kesempatan untuk menyebarkannya
• Tinggalkan ruangan atau pembicaraan saat gosip dimulai
• Jangan merespon pertanyaan yang menanyakan opini mengenai orang lain atau jebakan gosip lainnya
• Acuhkan gosip dan jangan memulai sebuah percakapan yang berujung menjadi gosip

Cegah gosip:

Kamis, 19 September 2013




 

10 Masa Sulit Dalam Kehidupan Rumah Tangga






Menikah memang membahagiakan. Namun pasti ada masa sulit yang akan dihadapi oleh pasangan suami istri. Kapan saja? Simak selengkapnya seperti yang dilansir dari Red Book Magazine berikut ini.

Bertengkar tanpa alasan


Terkadang, permasalahan di luar kehidupan rumah tangga terbawa dan mengganggu pikiran Anda. Sehingga muncul pertengkaran secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Jika hal ini terjadi, segera selesaikan masalah sebelum semuanya bertambah parah.


Masalah keuangan


Uang memang bukan segalanya, tetapi jika mau berpikir realistis, banyak hal yang dibutuhkan pasangan suami istri yang memerlukan uang. Jadi pastikan Anda maupun pasangan mengatur keuangan sebaik mungkin bersama-sama secara adil.


Bertemu keluarga besar


Setelah menikah, Anda pasti akan bertemu dengan keluarga besar pasangan. Pada awalnya memang sulit bersosialisasi dengan mereka. Namun jangan pasif dan cobalah bersikap ramah. Lagipula, keluarga pasangan adalah keluarga Anda juga.


Menyambut kehadiran anak


Tidak ada buku panduan untuk menjadi orang tua. Maka dari itu, menyambut kehadiran anak juga termasuk salah satu masa sulit dalam kehidupan rumah tangga. Lakukan yang terbaik dan jangan ragu meminta saran dari orang tua Anda.


Anak tumbuh dewasa


Setua apapun usia buah hati, orang tua pasti akan selalu menganggap mereka sebagai anak-anak. Hal inilah yang sering menjadi sumber konflik orang tua dan anak. Jadi cobalah untuk mengerti posisi anak seiring dengan bertambahnya usia mereka.

~ Penantian~


 Penantian



Bulan dengarkan lantunku
Bintang temanilah aku 
Terangi gelap malamku

Selasa, 17 September 2013

Welcome Back Rizki !




Assalamu'alaykum Warrahmatullahi Wabarokatuh
Selamat siang dan Salam sejahtera
(Harus dijawab loh !)

Welcome Back Rizki !

    Judul postingan kali ini "Welcome Back Rizki".
Ada Apa Dengan Rizki ? #eh . Alhamdulillah setelah pergumulan sekian lama (hhaha), dengan berbagai kesibukan. Akhirnya kakak Rizki update postingan lagi.

   "Mungkin" banyak yang bertanya kemana gerangan si Rizki ? sang author The One and The Only Makalah Informasi.
Ternyata si Rizki sedang sibuk menata hidup dengan perubahan siklus yang terjadi pada dirinya (Halah).
Menyeimbangkan antara bekal untuk kehidupan dunia dan akhirat (jelas lebih utama bekal untuk kehidupan akhirat, karena hidup di dunia hanya sebentar saja, YA hanya SEBENTAR).

   Setelah sekian lama, si Rizki iseng buka akun blogspot. Dan terjadilah postingan ini,hhe.
Yang jelas penulis dalam keadaan yang Alhamdulillah sehat wal'afiat (mohon do'anya).
Terima kasih atas kunjungan Visitor/blogger/fans yang selama ini mantengin Makalah Informasi:D.
Semoga saya masih dapat memberikan postingan yang update dan bermanfaat, akhirukallam,

Wassalammualaykum Warrahmatullahi Wabarokatuh

Rabu, 07 Agustus 2013

~~ 6 JENIS PEREMPUAN YANG WAJIB DIJAUHI ~~


~~ 6 JENIS PEREMPUAN YANG WAJIB DIJAUHI ~~

Lelaki digalakkan untuk mencari isteri solehah. Jauhi jenis perempuan-perempuan di bawah untuk dijadikan isteri nescaya kamu akan bahagia :

1. Al-Anaanah : Banyak keluh kesah. Yang selalu merasa tak cukup, apa yang diberi semua tak cukup. Diberi rumah tak cukup, diberi motor tak cukup, diberi kereta tak cukup. Tak redha dengan pemberian yang diberi suami. Asy
ik ingin memenuhi kehendak nafsu dia saja, tanpa menghiraukan perasaan suami, tak hormat kepada suami apalagi berterima kasih pada suami. Bukannya hendak menolong suami, apa yang suami beri pun tak pernah puas. Ada saja yang tak cukup.

2. Al-Manaanah : Suka mengungkit. Kalau suami melakukan perkara yang dia tak berkenan maka diungkitlah segala hal tentang suaminya itu. Sangat mudah hendak membicarakan perihal suami. Tak mengenang budi, tak bertanggungjawab, tak sayang dan macam-macam. Walaupun suaminya sudah memberi perlindungan macam-macam padanya.

3. Al-Hunaanah : Ingin pada suami yang lain atau berkenan kepada lelaki yang lain. Sangat suka membanding-bandingkan suaminya dengan suami/lelaki lain. Tak redha dengan suami yang ada.

4. Al-Hudaaqah : Suka memaksa. Bila hendak sesuatu maka dipaksa suaminya melakukannya. Pagi, petang malam asyik menekan dan memaksa suami. Adakalanya dengan berbagai ancaman. Ingin lari, ingin bunuh diri, ingin membuat malu suami. Suami dibuat seperti orang suruhannya, bukan sebagai pemimpinnya. Yang dipentingkan adalah kehendak dan kepentingan dia saja.

5. Al-Hulaaqah : Sibuk bersolek atau tidur atau santai-santai hingga lalai dengan ibadah-ibadah asas, seperti solat berjemaah, wirid zikir, mengurus rumah-tangga, berkasih sayang dengan anak-anak.

6. As-Salaaqah : Banyak berbicara, bergosip. Siang malam, pagi petang asik bergosip. Apa saja yang suami kerjakan selalu tidak benar dimatanya. Zaman sekarang ni bergosip bukan saja berbicara di depan suami, tapi dengan telefon, SMS, internet, dan macam-macam cara yang lain . Yang jelas isteri tu asyik menyusahkan suami dengan kata-katanya yang menyakitkan.

Senin, 27 Mei 2013

#Berlemah lembutlah serta Sayangi Buah Hatimu#



#Berlemah lembutlah serta Sayangi Buah Hatimu#




Wahai Ayah dan Ibu...




Diantara bentuk ketinggian dan kemuliaan agama islam yang menunjuki bahwa agama islam sangat mencintai dan menyayangi anak-anak (buah hatinya) dengan penuh belas kasih. Karena berlemah lembut kepadanya serta mencurahkan kasih sayang kepada mereka akan mengantarkan kedua orang tuanya menuju syurga.


Bahkan Nabi yang mulia صلى الله عليه و سلم menganjurkan kepada seseorang laki-laki yang hendak menikah agar dia menikahi wanita yang memiliki rasa belas kasih (baik kepada suaminya maupun kelak kepada buah hatinya), sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh abu dawud: 2050

Mafhumnya, jangan engkau menikahi wanita yang keras hatinya! Yang demikian akan memberikan mudharat untuk suami dan anaknya.




Kemudian ada satu hadits lagi yang menunjukkan sangat sayangnya kedua orang tua kepada anaknya, lebih khusus kaum ibu karena dia lebih sering bersama buah hatinya, untuk itu para ibu harus memiliki rasa belas kasih kepada anaknya.




Perhatikan hadits yang sangat besar berikut ini:


Minggu, 26 Mei 2013

♥ Ternyata Suamiku Tak Pernah mencintaiku ♥


Ada cerita bagus nih, walau panjang..
tp enggak rugi kalau mau bacanya ^_^

♥ Ternyata Suamiku Tak Pernah mencintaiku ♥

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku.
Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah.
Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit.
Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Lebih penting mana? Ibu kita atau istri kita……




Lebih penting mana?  Ibu kita atau istri kita……








>>> Lebih penting mana? Ibu kita atau istri kita……?????

Suami Harus Mendahulukan Ibunya Daripada Istrinya .Sangat wajar kalau anak laki-laki meski sudah menikah tapi tetap memperhatikan ibu dan bapaknya, bahkan ini adalah kewajiban anak kepada orang tuanya, terutama ibu. Meski anak sudah berkeluarga dan punya rumah sendiri, ia tetap wajib merawat orang tuanya, termasuk menafkahinya seandainya mereka memang sudah tidak mampu bekerja lagi.

Anak laki-laki harus taat kepada ibunya, bukan istrinya. Justru istrilah yang harus patuh pada suaminya.

Dalam sebuah hadits shahih, diriwayatkan bahwa Aisyah Ra bertanya kepada Rasulullah Saw, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?” Rasulullah menjawab, “Suaminya” (apabila sudah menikah).

Aisyah Ra bertanya lagi,
”Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Ibunya” (HR. Muslim)

Seorang sahabat, Jabir Ra menceritakan:
Suatu hari datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Saw, ia berkata, “Ya Rasulallah, saya memiliki harta dan anak, dan bagaimana jika bapak saya menginginkan (meminta) harta saya itu? Rasulullah menjawab, “Kamu dan harta kamu adalah milik ayahmu”. (HR. Ibnu Majah dan At-Thabrani).

Ini berarti apabila orang tua membutuhkan bantuan, maka kita tidak boleh menolak, apalagi sampai menyakiti perasaannya.

Jangan Korbankan Orang Tua Demi Istri,Meskipun Ia Cantik!

Allah Swt berfirman, “…dan hendaklah kamu bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu” (QS. Luqman:14).

Begitu penting berbuat baik dan berterima kasih kepada kepada kedua orang tua kita, sampai Rasulullah bersabda, “Ridha Allah terdapat pada keridhaan orang tua. Dan murka Allah terdapat pada kemurkaan orang tua” (HR. Turmudzi).
Demikian tinggi kedudukan orang tua terhadap anaknya, sampai-sampai Allah baru meridhai kita kalau orang tua ridha kepada kita. Sebaliknya, Allah akan marah kepada kita apabila kita menyia-nyiakan orang tua. Karena itu, janganlah seorang anak laki-laki mengorbankan orang tua demi istri, meskipun istri tersebut sangat cantik! Sebab berbakti kepada orang tua termasuk kewajiban pokok yang perintahnya digandeng dengan perintah beribadah kepada Allah, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan
supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik baiknya” (QS. Al- Isra’:23).

Istri Jaman Sekarang Kebanyakan Bermusuhan Dengan Ibu Mertuanya Jika kita mau jujur, kita akan setuju dengan pernyataan tersebut. Bagi istri, ketemu dengan ibu mertua sama dengan ketemu Mak Lampir.Jenis istri seperti inilah yang jumlahnya seribu. Artinya, sebagian besar istri berperangai seperti itu.

Rabu, 10 April 2013

Bayi Ompong, dan Kakek atau Nenek Ompong.





~Dr Muhammad Arifin Badri,MA~

Bayi ompong, dan kakek atau nenek ompong.

Anda bisa bayangkan bila bayi lahir telah tumbuh gigi lengkap dengan taringnya, bak anak harimau, niscaya ibunya akan tersiksa, putingnya digigit, dan bisa-bisa sang anak jadi kanibal.

Sekedar melihat anak yang demikian pasti saja, menjadikan anda keheranan.
Pendek kata, bayi bergigi bisa mencelakakan orang lain.

Namun bila kakek dan nenek tetap utuh giginya, maka bisa berbahaya, lupa daratan dan rakus, kata orang tua-tua keladi, makin tua makin menjadi, padahal secara fisik dan lainnya orang tua harus berhati-hati dalam makan, agar tidak celaka.

Singkat kata: kakek dan nenek yang bergigi utuh bisa mencelakakan diri sendiri.

Pelajarannya:

Senin, 01 April 2013

Aku Terpaksa Menikahimu dan Akhirnya Aku Menyesal








   ku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri. 

   Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Setelah menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

   Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

   Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
   Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

   Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

   Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
   
   “Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

   “Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

   Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku.

   Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera.
Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

   Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

   Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak    mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.   
             
   Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental.

    Dadaku sesak      mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke 
kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

   Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

   Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

   Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

   Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

   Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja.
Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

   Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku. 
“Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!”

   Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajeri oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

   Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

   Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

   Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
***
   Begitulah penyesalan sang istri akhirnya, dia menangis dan menyesal. Ketika suaminya telah tiada, dia baru sadar betapa besarnya cinta suaminya kepada dia. Semoga hal ini tidak terjadi lagi dalam kehidupan sekarang tetapi hanya cintanya saja yang akan terjadi.
 
Dipublikasikan oleh berbagai sumber

Rabu, 27 Maret 2013

Area 5: Aku Mencegah Adikku Pacaran



Aku Mencegah Adikku Pacaran



Sebelumnya aku sudah pernah bilang kalau aku mengkhawatirkan adikku, Rahma, karena dia begitu.. ehem.. cantik, kan? Dan aku khawatir kalau banyak yang mengajaknya jadi pacarnya? Biar kutambah: Aku juga khawatir kalau pas dia mulai masuk sekolah lagi, dia bakal bikin anak-anak laki-laki smandak pada nggak bisa melepaskan pandangannya dari adikku itu.



Dan kekhawatiranku itu jadi nyata.



Hari ketigaku di smandak, Rahma menggemparkan seantero sekolah. Obrolan-obrolan dan bisik-bisik di sekitarku yang lebih intens daripada keributan ribuan lebah yang sarangnya diganggu bocah berandal ala Amerika cuma mengisyaratkan satu topik: Anak baru yang begitu cantik bagaikan bidadari kesasar di bumi.



Oke, mungkin itu berlebihan, soalnya yang menyuarakan itu para laki-laki mainstream–dalam bahasa Putra.



Tentu saja, anak-anak Kompas (Komunitas IPA Satu, aku baru dikasih tahu tadi pagi oleh Arbiarso) juga ikut membicarakannya. Tapi yang paling semangat tentu saja kaum Adam–dengan pengecualian aku (ya iyalah) dan Putra. Arbiarso, Aldi, dan Reza, mereka yang paling semangat bicarain Rahma. Kayak sekarang, mereka lagi ngumpul di meja paling belakang, ngobrolin sang Il Phenomenon.



“Za, cantikan mana anak baru itu sama si Ismi?” tanya Arbiarso.



Reza tampak menimbang-nimbang sebentar. “Gimana ya? Mau jujur takutnya si Ismi marah, euy.”



“Lah, orangnya nggak ada di sini, kok.” Kata Aldi cuek. “Kataku sih lebih cantik anak baru itu daripada si Ismi.”



“Heh, enak aja.” Gerutu Reza, tapi dalam sekejap air mukanya berubah. “Tapi iya juga, sih.”



“Buuu! Gak konsisten!” Arbiarso menyoraki Reza sambil melempari Reza dengan gumpalan kertas.



Jam pelajaran Bahasa Indonesia kosong, Bu Tina nggak tahu kemana. Nggak ada tugas pula. Jadi wajar kalau anak-anak pada bebas. Ada yang ngabur ke kantin, ke kelas lain, nongkrong di luar, ke masjid, atau paling mentok ngobrol di dalam kelas, kayak Arbiarso dkk. Aku sendiri cuma baca buku di kursiku, sementara Putra pergi ke tempat yang we-know-where. Sebenarnya dia mengajakku juga, tapi aku milih buat baca novel Hercule Poirot yang kupinjam dari perpus aja di kelas.



Aku hampir menyesal nggak ikut ajakan Putra, soalnya kelas penuh dengan omongan membosankan soal Rahma. Bahkan aku nggak bisa konsen buat baca. Apalagi tiga anak di belakangku ini, paling berisik.



“Eh, kira-kira dia udah punya pacar, belum?” tanya Reza.



Aku spontan menoleh ke belakang. Mataku disipitkan, yang selalu kulakukan kalau aku mendengar sesuatu yang nggak enak.



“Gak tahu. Mudah-mudahan aja belum.” jawab Arbiarso dengan nada penuh harap.


Senin, 18 Maret 2013

Stroke








BANTU SHARE PADA TEMAN

JANGAN ABAIKAN, TOLONG DI BACA:

Anda dapat menyelamatkan nyawa seseorang dengan share ini.

STROKE:
Teman saya mengirimkan ini kepada saya.. dan meminta saya untuk mempostingkan ini dan menyebarkannya. Saya setuju.
Jikalau semua orang dapat mengingat langkah sederhana, kita dapat menyelamatkan banyak orang.

Pada saat sebuah pesta, seorang teman terjatuh dan ia meyakinkan semua orang bahwa ia baik-baik saja dan hanya terpeleset sebuah batu karena sepatu barunya.

Mereka membantu membersihkan orang tersebut dan memberikannya piring yang berisi makanan. Meskipun ia tampak masih kurang nyaman, Ingrid melanjutkan aktivitasnya dan menikmati pesta.

Suami Ingrid menelepon kemudian dan memberitahukan semua orang bahwa istrinya telah dibawa ke rumah sakit - pada jam 6 sore, Inggrid telah meninggal dunia. Ia terkena stroke pada saat pesta. Jikalau mereka telah mengetahui bagaimana mengidentifikasi tanda-tanda stroke, mungkin Ingrid akan masih bersama kita hari ini.

Beberapa tidak meninggal. Mereka berakhir dalam kondisi tidak tertolong. Ini hanya membutuhkan waktu Anda semenit untuk membacanya..

IDENTIFIKASI STROKE:
Seorang neurologist berkata bahwa jikalau ia mendapatkan korban stroke dalam jangka waktu 3 jam, ia dapat membantu membalikkan efek dari stroke tersebut secara total. Ia berkata bahwa triknya untuk mengenal sebuah serangan stroke, dan membuat pasien secara medis ditangani dalam waktu 3 jam, yang sulit.

MENGENALI STROKE:

Ingat 3 langkah, STR. Baca dan pelajari!

Terkadang tanda stroke sulit untuk di identifikasi. Sayangnya, tidak mengetahui ini bisa berakibat fatal. Korban stroke dapat mengalami kerusakan otak yang besar ketika orang di dekatnya gagal dalam mengindentifikasi tanda sebuah stroke. Dokter saat ini berkata bahwa orang biasa dapat mengenal serangan stroke dengan 3 pertanyaan simple di bawah ini:

Kamis, 14 Maret 2013

Mencintai adalah Keputusan ...




Mencintai adalah Keputusan ...




Dia berkata : “ Aku ibarat botol.... Tak kan kubuka tutup botol ini apabila aku tak sanggup
menutupnya kembali”.... Demikian juga dengan cinta. Aku tak akan pernah membuka hati
apalagi mengucapkan cinta kepada siapapun sebelum diri ini mampu menghalalkan cinta. Mencintai adalah Keputusan ...

Pernahkah hati dibelenggu rasa resah gelisah tiada menentu ketika wabah cinta hinggap di sana....? Rasa cinta yang hadir tanpa diundang dan pergi pun tiada direncanakan..

Orang bilang mencintai adalah pilihan karena diri kita yang memilihnya untuk kita cintai dengan segenap kelebihan dan kekurangannya.. .

Namun mencintai juga sebuah keputusan... karena diri kita yang memutuskan untuk mencintainya..

Sabtu, 09 Maret 2013

Jangan Cari Jodoh Di Dunia Maya, Keshalihannya Belum Tentu Nyata













Jangan Cari Jodoh Di Dunia Maya, Keshalihannya Belum Tentu Nyata






Sebelumnya kami hanya membaca nasihat seperti ini di dunia maya. Akan tetapi setelah mendengar dan melihat langsung, dan kasusnya tidak hanya satu. kami melihat bukti langsung bagaimana seorang laki-laki dan wanita, yang sudah mengenal agama dengan manhaj yang benar berdasarkan pemahaman sahabat, mereka berdua malah terjerumus dalam hal ini.Padahal kita sudah diajarkan bagaimana cara yang benar mencari jodoh yaitu dengan ta’aruf yang syar’i. Oleh karena itu maka kami coba menangkat tema ini.



Umumnya dilakukan oleh yang kurang imannya

Mungkin awalnya tidak bermaksud mencari jodoh, akan tetapi lemahnya iman yang membuatnya bermudah-mudah berhubungan dengan hubungan yang tidak halal, padahal mereka sudah mengetahui ilmunya. Inilah fenomena yang sering terjadi belakangan ini, wanita dibalik hijabnya yang tertutup rapat tetapi hijab kehormatannya tidak tertutup dibalik e-mail,inbox FB, dan SMS. Begitu juga dengan laki-laki dengan penisbatan mereka kepada, “as-salafi”, “al-atsari” dengan hiasan-hiasan status dan link berbau syar’i, akan tetapi sikap dan wara’-nya tidak menunjukkan demikian.

Hubungan laki-laki dengan wanita yang berujung cinta adalah kebahagian hati terbesar bagi manusia terutama pemuda, lebih-lebih bagi mereka yang belum pernah mecicipi sama sekali. Maka ketika bisa merasakan pertama kali sebagaimana berbuka puasa, sangat nikmat dan bahagia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

للصائم فرحتان : فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه

“Orang yang berpuasa memiliki 2 kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya kelak” (HR. Muslim, no.1151)

Senin, 21 Januari 2013

Saat Istri Berkata Kasar Kepada Suaminya Tetapi Bermanis-Manis Dengan Suami Orang Lain






Saat Istri Berkata Kasar Kepada Suaminya Tetapi Bermanis-Manis Dengan Suami Orang Lain

Ada Satu Fenomena yang aneh di Jawa Barat Saat ini yang Saya temui, terutama kaum Ibu-ibu yang bekerja. Suatu ketika Saya baru saja keluar dari pintu Gerbang salah satu Factory Perusahaan dimana Saya bekerja saat ini, Saat itu Sore Pukul 16.30 Wib, di Pintu Gerbang itu Saya menantikan Jemputan Saya, tak berapa lama datanglah dua orang manusia, Seorang ibu-Ibu usia 40 tahunan menggunakan pakaian Dinas (PNS) Mengajar dianttar menggunakan motor oleh Pria berpakaian Dinas yang sama dan Saya perkiraan Usianya pun Sama. Sang Ibu-Ibu itu dengan mesranya berbicara kepada Sang Pria “Aduh Bapak…Hatur Nuhun….Abdi teh udah ngarepotkeun…hatur nuhun juga makan siangnya, besok mau lagi dong…hehehe.Ohya besok kita berdua jadi ke bogornya”, Sang Pria 40 tahunan ini juga menyambut dengan hangatnya, Saya berfikir diawal mungkin Pria tersebut suaminya, segitu mesra dengan colek-colekanya.

Jumat, 18 Januari 2013

Sebuah Kisah





Syaikh Zamil Zainu pernah bercerita padaku tatkala beliau ingin menikahkan putrinya dengan salah satu saudara kami di Yordania.


Katanya : Ketika saya di masjid, maka saya duduk di bagian belakang untuk melihat shalatnya para pemuda sehingga saya memusatkan perhatian kepada seorang pemuda yang paling baik

shalatnya, paling khusyu' dan lama berdirinya.


Kemudian saya mencari lagi pada shalat shubuh dan Isya' sehingga saya menemukan seorang pemuda yang rajin dan tidak malas. Lalu saya mendatangi pemuda tersebut dan bertanya padanya :


"Apakah anda sudah menikah ?" Jawabanya : "Belum".


Saya bertanya lagi : "Maukah engkau saya nikahkan dengan putriku ?" Jawabnya : "Subhanallah, siapa yang tidak mau ?!" Akhirnya saya menikahkannya dengan putriku.




Demikianlah selayaknya yang dilakukan oleh para orang tua.



Sumber : http://www.facebook.com/ayomenikah/posts/517117328319903