Selasa, 04 Maret 2014

Penerimaan AMG 2014/2015


Penerimaan AMG 2014/2015



     Penerimaan AMG ( Akademi Meteorologi dan Geofisika )Tahun Ajar 2014/2015 
Berikut pengumuman yang saya kutip dari web aslinya :

No. 074/DL.004/II/AMG-2014
TENTANG :
PENERIMAAN TARUNA BARU
AKADEMI METEOROLOGI DAN GEOFISIKA TAHUN AKADEMIK 2014/2015


Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG), pada Tahun Akademik 2014 / 2015 menerima para pemuda / pemudi Warga Negara Indonesia untuk dididik menjadi Taruna Akademi Meteorologi dan Geofisika dengan ketentuan sebagai berikut :


A. PROGRAM / JURUSAN.
1. Program Diploma III, setara dengan tingkat ahli madya, dengan gelar Ahli Madya (A.Md)
 jurusan Meteorologi,
 jurusan Klimatologi,
 jurusan Geofisika
 jurusan Instrumentasi

2. Program Diploma IV, setara dengan tingkat sarjana, dengan gelar Sarjana Sains Terapan (S.S.T)
 Merupakan program lanjutan yang diperuntukkan bagi mereka yang telah menyelesaikan program Diploma III dengan indeks prestasi yang dipersyaratkan.


B. PERSYARATAN CALON TARUNA:


Selasa, 26 November 2013

Sebaris Nasehat Untukmu...Saudariku Muslimah




#Sebaris Nasehat Untukmu...Saudariku Muslimah#







Hijabku adalah kehormatanku, tanpa hijab itu maka kehormatan itu tidak ada padaku, aku laksana telanjang meski aku telah memakai pakaian, meski telah berjilbab gaul, sama saja tetap telanjang tanpa hijabku yang syar'iy.

Hijabku bukanlah tontonan, bukan barang yang akan aku pamerkan, maka hijabku itu tidak bermotif-motif atau bergaya-gaya agar terlihat modis dan menawan, hijabku itu menyembunyikan diriku dari pandangan manusia, bukan malah menarik perhatian mereka, hijabku melindungi aku dari bahaya dan keburukan pandangan manusia, insyaAllah aku akan selalu aman dengannya.

Hijabku bukanlah mengikuti trend yang sedang berkembang, yang hari ini dipakai kemudian besok dilepas, hijabku adalah ketaatanku kepada Allah Ta'ala, sebagai bukti ketundukan dan cintaku kepadaNya.

Hijabku bukan barang eksperimen dan kreativitas, yang didesain begini dan begitu untuk inovasi dalam

Minggu, 29 September 2013

Zainab binti Jahsy radhiallaahu ‘anha


Zainab binti Jahsy radhiallaahu ‘anha



Pernikahan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dengan Zainab binti Jahsy didasarkan pada perintah Allah sebagai jawaban terhadap tradisi jahiliah. Zainab binti Jahsy adalah istri Rasulullah yang berasal dan kalangan kerabat sendiri. Zainab adalah anak perempuan dan bibi Rasulullah, Umaimah binti Abdul Muththalib. Beliau sangat mencintai Zainab.

Nasab dan Masa Pertumbuhannya

Perceraian kian meroket, kenapa?



Oleh: Ruma Ummu Luthfan,
(Peminat Masalah Sosial dan Kewanitaan)




              Kementerian Agama (Kemenag) mencatat setiap tahunnya telah terjadi 212 ribu kasus perceraian di Indonesia. “Angka tersebut jauh meningkat dibanding 10 tahun yang lalu, yang jumlah angka perceraiannya hanya sekitar 50.000 per tahun,” kata Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jakarta, Sabtu (14/9/2013). Nasaruddin sangat prihatin dengan tingginya angka perceraian tersebut. Apalagi, hampir 80 persen yang bercerai merupakan rumah tangga usia muda.

Untuk menekan angka ini, salah satu langkah jitu yang diambil pemerintah melalui Kemenag adalah mengadakan Kursus Calon Pengantin (Suscatin) dengan menunjuk Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai lembaga pelaksananya. Kursus ini diberikan kepada setiap calon pasangan yang akan melaksanakan pernikahan dengan tujuan agar memahami pengetahuan tentang kehidupan rumah tangga/keluarga dalam mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah serta mengurangi angka perselisihan, perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga.

Materi kursus ini diberikan selama 24 jam pelajaran, meliputi tata-cara dan prosedur perkawinan, pengetahuan agama, peraturan perundang-undangan di bidang perkawinan dan keluarga, hak dan kewajiban suami istri, kesehatan reproduksi, manajemen keluarga dan psikologi perkawinan dan keluarga. Hal ini juga dikuatkan oleh pernyataan Dirjen Bina Masyarakat (Bimas) Islam Kementrian Agama, Abdul Djamil bahwa pembekalan yang diberikan meliputi pemahaman bahwa pernikahan adalah bersatunya dua individu yang berbeda pikiran dan pandangan sehingga dibutuhkan saling pengertian dan kesabaran dalam menyikapi perbedaan tersebut.

Apa penyebabnya?

Jika ditelaah secara mendalam, setidaknya terdapat dua faktor yang menyebabkan tingkat perceraian kian meroket, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal, meliputi ketidaksiapan pasangan suami istri dalam menghadapi berbagai permasalahan yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga, dan kurang pahamnya pasangan suami istri tentang hakikat tujuan pernikahan.

Sabtu, 21 September 2013

Bahaya Ghibah Terhadap Ukhuwah Islamiyah




Bahaya Ghibah Terhadap Ukhuwah Islamiyah 

 Oleh : Ali Farkhan Tsani*



   Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepada para sahabatnya :

أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ؟ قَالُوْا: اَللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، قِيْلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

   Artinya : “Tahukah kalian (wahai para sahabat) apakah yang disebut ghibah itu?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “(Ghibah) yaitu engkau menyebut saudaramu (sesama muslim) sesuatu yang dibencinya.” (Kemudian) sahabat bertanya, “(Ya Rasul) bagaimana halnya jika apa yang aku katakan itu (memang) terdapat pada saudaraku?” Beliau (pun) menjawab, “Jika apa yang kamu katakan itu (memang) terdapat pada saudaramu, maka (itulah berarti) engkau (memang) telah menggunjingnya (melakukan ghibah), (namun sebaliknya) jika apa (yang kalian katakan) itu tidak terdapat padanya, maka engkau telah berdusta (membuat fitnah) terhadapnya.” (Hadits Shahih riwayat Muslim).

     Astaghfirullahal ‘adzim. Ya Allah, seringkali terdengar di tempat kerja, di ruang minum kopi, di rumah, bahkan di majelis pengajian, seorang kaum muslimin menggunjing saudaranya sesama muslim tanpa merasa berdosa sedikitpun. Mereka asyik dengan gunjingannya itu, dan puas mengupas tuntas kejelekan, kelemahan, dan kesalahan saudaranya, yang semestinya dicintai, dikasihi dan dijaga nama baiknya karena Allah.
     Padahal, kalau kita melihat bagaimana Allah menggambarkan menggunjing itu dengan suatu yang amat kotor dan menjijikkan, yaitu bangkai. Bagaimana Allah menyebut di dalam firman-Nya yang Mahamulia :  

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مّنَ الظَّنّ، اِنَّ بَعْضَ الظَّنّ اِثْمٌ وَّ لاَ تَجَسَّسُوْا وَ لاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ، وَ اتَّقُوا اللهَ، اِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
 
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jauhkanlah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging (bangkai) saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Quran Surat Al-Hujurat [49] ayat 12).



Pengertian Ghibah

    Secara bahasa, kata “ghibah” (غيبة) berasal dari akar kata “ghaba, yaghibu” (غاب يغيب) yang artinya tersembunyi, terbenam, tidak hadir, dan tidak tampak. Kita sering menyebut “ghaib”, tidak hadir.
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyimpulkan bahwa ghibahadalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedangkan orang muslim itu tidak suka bila hal itu disebutkan.
Seorang ulama yang menggugah jiwa lewat tulisan-tulisannya, Imam Al-Ghazali mengungkapkan, ghibahtidak hanya pengungkapan aib seseorang yang dilakukan secara lisan. Tetapi juga termasuk pengungkapan dengan melalui perbuatan, misalnya dengan isyarat tangan, isyarat mata, tulisan, gerakan dan seluruh yang dapat dipahami maksudnya. 

     Menurut Imam Al-Ghazali, aib seseorang yang diungkapkan itu meliputi berbagai hal, seperti kekurangan pada badannya, pada keturunannya, pada akhlaknya, pada pebuatannya, pada ucapannya, pada agamanya, termasuk pada pakaian, tempat tinggal dan kendaraannya.
Demikian banyak hal yang dapat menjadi obyek pengungkapan tentang kekurangan diri seseorang, sehingga seorang muslim, sadar atau tidak sadar memungkinkan dirinya sangat mudah terjerumus dalam ghibah ini, bila tidak berhati-hati dan tidak pula mewaspadainya.

   Bagaimana tidak? Seperti makan daging? Sementara yang digunjing tidak mampu menjawabnya, karena tidak ada di tempat gunjingan. Benar-benar seperti daging mati, tidak mampu membalasnya, memberikan penjelasan, alasan, dan argumen, yang memungkinkan adanya penjelasan seimbang dengan gunjingannya itu.
   Seorang ulama hafidz Al-Quran yang juga ahli tafsir dan hadits, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan, tentang Surat Al-Hujurat ayat 12 yang artinya, “Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging (bangkai) saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kalian merasa jijik kepadanya.” Ayat ini merupakan gambaran betapa ghibah bagaikan mencabik-cabik orang dari belakang tanpa sempat orang tersebut membelanya. Karena tak dapat membela itulah maka diibaratkan orang mati, yang hanya bisa diam saja sekalipun dirobek-robek.

    Masih menurut Ibnul Qayyim, menikmati ghibah sama seperti makan sekerat daging, memang enak rasanya hingga susah menghentikannya. Namun, mereka tidak mengetahui bahwa daging itu sudah basi alias telah menjadi bangkai.