Sabtu, 03 Desember 2011

Cuaca Sumsel Ekstrem

PALEMBANG, SRIPO — Sejak dua hari terakhir ini, suhu dan cuaca di Sumsel, khususnya Palembang terasa lembab dan dingin. Tidak hanya itu, hujan lebat terjadi di beberapa daerah disertai dengan badai angin. Khusus warga di daerah berbukit, diminta waspada terhadap longsor.

Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi SMB II Palembang Agus Santosa, Jumat (2/12) mengatakan, kondisi cuaca periode akhir November-Desember, sebagian wilayah di Sumsel dilanda cuaca ekstrem, yaitu hujan lebat yang bisa berdampak banjir. Dalam waktu lima tahun terakhir ini, berdasarkan data di Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, hujan lebih lebih tinggi dibanding bulan lainnya.

“Tekanan udara memang rendah dan memburuk sejak dua terakhir ini. Indikasi ini akibat kondisi dinamika atmosfir dan awan mendung di arah barat, masuk ke Sumsel,” katanya.

Dikatakan, masuknya musim penghujan akan menjadi pekerjaan rumah bagi Dinas PU dan Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA). Khususnya di Palembang, dimana tercatat ada 46 titik lokasi rawan banjir dan genangan air yang cukup tinggi, seperti yang pernah diangkat oleh media massa.

Dari catatan BMKG, periode Desember di tahun sebelumnya, cuaca ekstrem berupa hujan lebat dengan curah lebih dari 50 mm/hari tercatat tiga kali kejadian, angin kencang dengan kecepatan di atas 25 knot (6 kali), suhu udara panas lebih dari 35 derajat celsius (nihil), kelembaban udara kurang dari 40 persen (nihil), kabut/asap tebal jarak pandang kurang dari 1000 meter (5 kali), jumlah cuaca ekstrim setiap hari (14 kali). Data ini merupakan bayangan dari kejadian di Desember tahun lalu, dan cuaca ekstrem seperti yang diperkirakan akan terjadi di Desember 2011.

Namun begitu, ungkap Agus Santosa, dibandingkan periode November maka Desember jauh lebih baik karena terjadi penurunan intensitas kejadian cuaca.
“Kalau November, masuk masa peralihan musim kemarau ke musim hujan sehingga udara tidak menentu. Tapi, kalau Desember periode hujan,” katanya.

Waspada Longsor
Terpisah Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Yulizar Dinoto mengatakan, dalam musim penghujan saat ini, masyarakat yang berada di daerah berbukit dan tebing diharapkan waspada longsor. Selain itu, warga yang berada di tepian Sungai juga mewaspadai arus deras sungai. “Masyarakat diminta waspada dengan musim penghujan saat ini,” katanya.

Di Posko Bencana Alam BPBD Sumsel, saat ini sudah bersiaga beberapa unit kendaraan taktis, seperti kendaraan yang bisa tembus menjangkau medan rawa, berbukit dan lokasi banjir, begitu juga dengan perahu karet.

Tingginya curah hujan beberapa hari terakhir di Kabupaten Lahat, sangat rentan terjadi bencana alam. Beberapa daerah bahkan sangat berpotensi terjadi banjir dan tanah longsor, sehingga masyarakat dihimbau harus tetap waspada dan berhati-hati. Jika bencana terjadi diharapkan segera melapor ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), agar proses evakuasi dan pemberian bantuan bisa cepat dilaksanakan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lahat Drs A Cholil Mansyur menjelaskan, bencana alam di Kabupaten Lahat memang sangat rentan terjadi. Apalagi melihat tingginya curah hujan yang terjadi, yang hampir setiap hari mengguyur seluruh wilayah Kabupaten Lahat. Sehingga semua masyarakat terutama di kawasan rawan bencana, harus selalu waspada.

Tanah Longsor adalah potensi bencana terbesar yang mungkin terjadi di beberapa wilayah di Kabupaten Lahat. Hal ini karena kultur beberapa kawasan adalah berupa tebingan dan perbukitan. Sehingga hal tersebut menjadi perhatian serius pihaknya, terutama dalam upaya penanggulangan dan penanganan jika bencana benar terjadi.

Wilayah yang rentan terjadi bencana tanah longsor, yakni di Kecamatan Tanjung Sakti Pumi yang berbatasan dengan Kabupaten Manna Provinsi Bengkulu. Jalan lintas yang menghubungkan Lahat dan Manna sangat rawan longsor, bahkan kerap menimbun badan jalan. Sehingga sering menimbulkan kemacetan arus lalulintas, karena menghalangi laju kendaraan.

Kecamatan Pulau Pinang juga cukup rentan terjadi tanah longsor. Bahkan tiga rumah warga di Desa Tanjung Mulak sudah tertimpa reruntuhan tanah dari perbukitan, akibat hujan deras yang turun tanpa henti.
(sin/mg10)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar, kritik, saran, juga pertanyaan sahabat sangat saya hargai sebagai masukan agar blog ini dapat lebih baik dan kita semua dapat memperoleh manfaat daripadanya. Jangan sungkan untuk berkomentar.